Updates

5 mitos tentang jurusan psikologi

Menjadi psikolog adalah profesi yang tidak mudah untuk di pelajari, apabila kamu mau belajar psikologi, berikut 5 mitos psikologi dari carikuliah

By carikuliah.com | 2 months ago
carikuliah.com

Apa yang terlintas dalam pikiranmu ketika bertemu dengan mahasiswa psikologi? Apa kamu berpikir bahwa mereka bisa membaca pikiran? Atau mungkin bisa membaca kepribadian seseorang lewat matanya saja? Banyak yang telah berpikir demikian, dan inilah kesalahpahaman yang telah menjadi mitos seputar anak psikologi. 

 

Jurusan psikologi adalah jurusan yang cukup banyak diamati calon mahasiswa sekitar Indonesia. Jika kamu ingin menjadi anak psikologi, kamu patut membaca ini. Inilah beberapa mitos salah mengenai anak psikologi!

 

1. Membaca kepribadian orang dengan sekali lihat

 

Yang telah disebut tadi, inilah salah satu mitos terpopuler yang memutari mahasiswa psikologi. Anak psikologi takan langsung mengetahui kepribadian kamu; seperti manusia reguler, ini akan menjadi apa yang disebut "judging a book by its cover" atau menilai buku dari sampulnya. Kenyataannya, mahasiswa psikologi tidak membaca kepribadian orang dari struktur wajah atau garis telapak tangan mereka. Untuk mengenali kepribadian seseorang, mereka menjalankan beberapa tes kepribadian untuk memahami karakter orang tersebut dengan lebih baik.

 

2. Menjadi psikolog mudah

 

Banyak yang berpikir bahwa menjadi seorang psikolog relatif mudah. Mereka menganggap sepele akan pekerjaan ini dan bersangka bahwa yang dilakukan psikolog hanyalah mendengarkan keluhan dan memberikan kata-kata yang menghibur. Namun, yang sebenarnya terjadi adalah saat klien-klien bercerita, inilah saatnya psikolog merumuskan masalah mereka. Bercerita dengan psikolog tidak bisa dibandingkan dengan curhat bersama teman-teman baikmu. Psikolog akan mencari celah akan masalah itu dan memikirkan cara terapi yang mungkin bisa membantu proses penyembuhan kamu. 

 

3. Bebas stress

 

Seperti manusia normal, psikolog juga merasa tertekan dan mengalami stres. Hanya karena siswa psikolog mempelajari tentang mentalitas manusia, ini tidak membuat mereka kebal terhadap hal-hal yang mungkin membuat mereka merasa sedih atau tertekan. Mereka bukanlah robot. Anak psikologi juga bisa mempunyai masalah; dokter pun bisa sakit, psikologis juga sama toh

 

4. Membaca pikiran orang

 

Ini juga telah disebut di atas. Dalam beberapa cara, psikolog memang bisa membaca pikiran atau perasaan seseorang, tetapi tidak dalam bentuk superhero atau orang sakti. Psikolog dapat membaca perasaan orang dengan menggunakan metode ilmiah yang disepakati di dunia psikologi. Dengan kemiripan lain dengan para-para dokter, dokter tidak dapat langsung menebak penyakit pasien dengan hanya melihat, bukan? Selain itu, mahasiswa yah pasti juga masih mahasiswa. Mereka masih menuntut ilmu, jadi jangan salahkan mereka jika belum terlalu ahli membaca fikiran atau perasaan seseorang. 

 

5. Psikolog sama dengan psikiater 

 

Serupa tapi tidak sama, psikiater dan psikolog bukanlah profesi yang sama. Untuk menjadi psikiater, kamu harus menekuni jurusan kedokteran dulu, sebab psikiater adalah dokter yang mendalami spesialisasi kedokteran jiwa. Sehabis kuliah S1 menggeluti jurusan kedokteran, baru lanjut mengambil program dokter spesialis kejiwaan atau psikiater. Perbedaan besar antara psikolog dan psikiater adalah kurangnya penggunaan obat-obatan untuk profesi psikolog. Karena dasarnya dokter, tentu psikiater akan lebih tergantung pada obat-obatan, melainkan psikolog yang lebih berpaling kepada psikoterapi, yang lebih menyentuh jiwa dan pikiran lebih daripada otak dan tubuh. 

 

Nah, inilah beberapa mitos seputar anak psikolog! Semoga bermanfaat.