Updates

5 mitos jurusan hukum

Bagi kamu calon pengacara, sebelum kamu mengurungkan niat kamu menjadi pengacara, carikuliah mengulas mitos ini.

By carikuliah.com | 2 months ago
carikuliah.com

Jurusan Hukum pasti tidak kalah dong dengan jurusan bisnis dalam sudut popularitas nya. Pengacara-pengacara terkenal seperti Hotman Paris ataupun Kim Kardashian yang baru memulai berkuliah hukum menunjukan betapa penting dan hebat nya bidang hukum di dunia kita kini. Jurusan hukum mengajari mahasiswa akan ilmu sosial, hukum, dan politik. 

 

Jika kamu ingin memasuki jurusan hukum atau tertarik akan jurusan hukum, inilah 5 mitos salah mengenai kuliah jurusan ini: 

 

1. Pasti bekerja menjadi pengacara atau hakim

 

Ini kesalahpahaman yang patut dibenarkan. Walau memang, pengacara atau hakim pasti menekuni S1 dalam jurusan hukum agar pekerjaan target mereka tercapai. Namun, itu bukan satu-satunya langkah yang harus ditempuh. Selanjutnya, mahasiswa hukum yang ingin menjadi pengacara harus menekuni pendidikan khusus untuk mendapat nomor registrasi yang legal. Pekerjaan yang ditawari jurusan hukum tuh bervarian! Misalnya, kamu bisa menjadi jurnalis, jaksa, ataupun selebriti. Jurusan hukum akan mengajari kamu cara menganalisa, memecahkan masalah, serta public speaking, yang sangat bermanfaat untuk berbagai macam pekerjaan. 

 

2. Wajib menghafal undang-undang serta pasal

 

Oh, rumor ini sangat menyakitkan untuk didengar. Bayangkan betapa sengsaranya mahasiswa hukum jika mitos ini adalah sebuah fakta. Mitos ini jelas kurang tepat, sebagian besar mahasiswa tidak mungkin bisa mengingatkan memori semua undang-undang serta pasal negara kita ini. Yang dilakukan mahasiswa hukum bukanlah menghafal, namun memahami. Mereka harus memahami sejarah, filosofi, dan dasar-dasar dari dibuatnya suatu peraturan (IDN Times, 2019). Memahami sesuatu juga jauh lebih efektif dari menghafal, sebab menghafal berarti suatu hari bisa saja dilupakan. 

 

3. Tidak ada matematika

 

Sadly, no. Pernyataan ini adalah sebuah mitos besar, dan sama sekali bukan fakta! Menekuni ilmu hukum tidak berarti kamu lolos dari pelajaran matematika. Coba, untuk hitungan harta warisan atau urusan jual-beli, bukannya kamu akan membutuhkan matematika? Apalagi juga rumus dan latihan yang dibutuhkan untuk melakukan hal tersebut. Maka, jangan salah paham! Maths is inescapable! 

 

4. Menjadi aktivis sewaktu berkuliah

 

Mitos ini tidak 100% tepat. Walaupun betul, ilmu hukum akan membuka mata dan wawasanmu terhadap aksi dan kegiatan politis. Banyak yang juga berminat untuk terlibat aksi-aksi ini langsung di jalanan. Namun, of course, tidak semua mahasiswa diwajibkan atau harus mengikuti kegiatan politis-politis ini sewaktu kuliah. Menjadi aktivis adalah pilihan yang dibuat oleh kamu, dan diri kamu sendiri. Toh, mendalami ilmu hukum tidak harus dilakukan dengan cara bersikap aktif; membelajarkan ilmu dengan cara pasif juga bisa dilakukan. Do what is comfortable to you

 

5. Pekerjaan hakim / pengacara jahat

 

Hayoloh, siapa yang pernah berpikir ini? Biasanya, kaum ibu-ibu dan tante-tante suka mempermasalahkan moralitas jika berbicara tentang jurusan hukum. Katanya, untuk menjadi pengacara yang sukses, kamu harus menjadi pengacara yang jahat. "Kalau orang nya salah pasti membayar lebih banyak", biasa nya seperti itu sih yang dikatakan, yakni mereka percaya bahwa semakin kayanya pengacara, semakin banyak dosa yang telah mereka lakukan. Korupsi juga termasuk masalah yang terjangkit dari ini, dan sebenarnya ini adalah masalah yang menyangkut kepercayaan dan hati kita sendiri. Keadilan adalah sesuatu yang dapat kamu kuasai, what will you choose? 

 

Inilah beberapa mitos mengenai jurusan hukum, semoga bermanfaat.